Jumat, 13 Januari 2012
Bulan Shafar
Bulan
shafar 1433 H adalah salah satu bulan Allah yang mulia, bukan bulan sial
sebagaimana anggapan sebagian orang. Kita juga mengetahui bahwa islam adalah
agama yang selalu menaruh harapan baik terhadap kehidupan. Maka islam mengajari
kita untuk selalu bersikap optimis dan menaruh harapan yang baik terhadap
kehidupan dan segala yang melingkupinya. Sebaiknya, ajaran islam melarang kita
menyakini sangkaan – sangkaan salah yang menyangkut kemalangan dalam kehidupan,
sebagaimana keyakinan orang – orang Jahiliyah.
Memang,
menurut beberapa riwayat sebagaimana yang disebutkan para ulama, di bulan ini
Allah SWT menurunkan berbagai bala’ dan cobaan serta musibah di bumi. Diantara
keterangan – keterangan ulama berkaitan dengan ini adalah bahwa hari rabu
terakhir bulan shafar turun bala’ yang sangat besar, namun hal ini tidak
berarti bulan shafar adalah bulan bala’. Secara keseluruhan , bulan shafar sama
saja dengan bulan bulan yang lain. Jadi keterangan itu tidak bertentangan
dengan keyakinan bahwa semua bulan dan semua hari itu adalah baik. Berkaitan
dengan itu ada beberapa hal yang perlu diketahui dan dipahami.
Pertama,
musibah – musibah tersebut tidak akan terjadi kecuali dengan qadha dan qadar
Allah SWT. Bukan karena sesuatu yang lain dari makluk – makluk Allah SWT,
melainkan semua itu sesuai dengan qadha danqadar-Nya. Di dalam Al Qur’an surah
Al Hadid ayat 22 disebutkan yang artinya, “ setiap bencana yang menimpa dibumi
dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam kitab (lauh al
mahfuzh) sebelum kami mewujudkannya.
Kedua,
tidak berarti bahwa bulan shafar adalah bulan sial, karena, pada setiap bulan,
termasuk bulan shafar, terdapat atau terjadi hal hal yang baik (menyenangkan)
dan juga hal-hal yang buruk atau tidak menyenangkan. Jadi, keterangan yang
menyebutkan bahwa pada bulan shafarb turun berbagai musibah bukan berarti bahwa
bulan itu adalah bulan sial. Karena itu, untuk menghindari sikap pesimistis
yang demikian, para ulama menyebut bulan shafar dengan Shafar Al khyar 9 bulan
shafar yang baik).
Allah
SWT melarang kita untuk menganggap hari atau bulan tertentu sebagai bulan sial
atau membawa kesedihan atau yang lain. Semua bulan adalah sama, yaitu bulan –
bulan Allah SWT. Setiap bulan yang disitu seorang mukmin mengerjakan kebaikan
dan beribadah, bulan itu adalah bulan yang membawa berkah baginya. Setiap waktu
yang dibuat seseorang untuk mengerjakan maksiat, waktu tersebut adalah waktu
yang membawa kesialan dan dosa.
Jadi
hakikat kesialan adalah maksiat kepada Allah SWT. Dalam hadits yang diriwayatkan
Ibnu mas’ud RA dikatakan, “ jika kesialan terdapat pada sesuatu, ia ada
dilidah.”karena, lidah adalah salah satu indra manusia yang sering digunakan
untuk bermaksiat. ‘Adiy bin Hatim juga berkata. “ beruntung dan sialnya sesuatu
itu tergantung pada lidahnya.”
Dalam
sebuah hadits dari Ali RA dikatakan, “bersegeralah untuk bersedekah.
Sesungguhnya Bala’ tidak akan melewatinya.”(HR Ath-Thabarani). Dalam hadits
lain dikatakan, “sesungguhnya pada tiap – tiap hari terdapat musibah, maka
tolaklah musibah itu dngan sedekah.”
Sebagian
orang menganggap bahwa bulan shafar adalah bulan pembawa sial, sehingga
menanggalkan bepergian dibulan ini. Padahal hal tersebut perbuatan yang
termasuk syirik, yang dilarang dibulan shafar, juga dilarang dibulan – bulan
atau hari-hari lain, seerti syawal atau hari Rabu. Dalam sebuah hadits
dikatakan, “ barangsiapa menanggalkan suatu perjalanan karena pesimistis
(berkeyakinan akan sial), ia telah melakukan perbuatan Syirik.”
Dalam
shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan bahwa Nabi SAW bersabda, “ Tidak
ada penularan (penyakit), tidak ada thiyarah, tidak ada hamah, dan tidak ada
shafar.”
Lalu
seorang arab baduwi bertanya.”wahai rasululloh, bagaimana dengan unta yang
sehat yang kemudian dicampuri unta yang berkudis, sehingga membuatnya berkudis
jua?”
Maka
rasululloh SAW berkata, “ lalu siapa yang menulari yang pertama?”
Thiyarah
adalah mengambil tanda-tanda kemalangan (kesialan) dengan menggunakan nama-nama
burung, warnanya, dan arah perginya, meskipun tidak dibuat lari(terbang).
Sedang
hamah adalah burung hantu. Orang orang jahiliyah meyakini bahwa, burung hantu
mengitari rumah salah seorang diantara rumah mereka, orang ersebut atau salah
seorang anggota keluarganya yang menghuni rumah itu akan mati. Maka maksudnya”
tidak ada hammah” adalah tisak ada tanda-tanda kemalangan(kesialan) dengan
burung hantu.
Adapun
“tidak ada Shafar” artinya tidak ada shafar yang diakhirkan dari waktunya.
Dahulu orang orang arab mengakhirkan muharram ke sahafar dan menjadikan shafar
sebagai bulan mulia. Maksudnya, mereka meyakini adanya kemalangan dengan
masuknya bulan shafar, karena mereka membayangkan bahwa didalam bulan itu
terdapat banyak bencana. Maka pengertian ‘tidak ada shafar” adalah tidak ada
kesialan dengan masuknya bulan tersebut.
Senin, 05 Desember 2011
DO'A HARI ASYURA
حَسْبُنَااللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ
سُبْحَانَ اللَّهِ مِلْءَالْمِيْزَانِ وَمُنْتَهَى الْعِلْمِ وَمَبْلَغَ الرِّضَاوَزِنَةَالْعَرْشِ
لاَمَلْجَأَ وَلاَمَنْجَأَ مِنَ اللَّهِ اِلاَّ اِلَيْهِ سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَالشَّفْعِ وَالْوِتْرِ
وَعَدَدَكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ كُلِّهَانَسْأَلُكَ السَّلاَمَةَبِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
وَلاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَاِلاَّبِاللَّهِ الْعَلِىِّ الْعَظِيْمِ
وَهُوَحَسْبُنَ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
"Hasbunallahu wani'mal wakiilu ni'mal maulaa
wani'man nashiiru
Subhanallahi mil-al miizaani wa muntahal 'ilmi wa mablaghar ridhaa wazinatal 'arsyi
Laa malja-a walaa manja-a minallahi illa ilaihi subhaanallahi 'adadasy syaf'ir wal witri
Wa 'adada kalimaatillahittaammaati kulliha nas-alukas salaamata birahmatika yaa arhamar raahimina
Walaa haula walaa quwwata illa billahil 'aliyyil 'azhiimi
Wa huwa hasbuna wa ni'mal wakiilu ni'mal maulaa wa ni'man nashiiru
Wa shallalahu 'alaa sayyidina muhammadin wa 'alaa aalihi washahbihii wasallam"
Artinya:
"Cukuplah Allah menjadi sandaran kami, dan Dia sebaik-baik Pelindung, sebaik-baik kekasih, dan sebaik-baik Penolong. Maha Suci Allah sepenuh timbangan, sesempurna ilmu, sepenuh keridhaan dan timbangan 'arsy. Tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari Allah, kecuali hanya kepada-Nya. Maha Suci Allah sebanyak bilangan genap dan ganjil, dan sebanyak kalimat Allah yang sempurna, kami memohon keselamatan dengan rahmat-Mu wahai Dzat Yang Paling Penyayang diantara semua yang penyayang. Dan tiada daya upaya dan kekuatan, kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Dan Dialah yang mencukupi kami, sebaik-baik Pelindung, sebaik-baik kekasih, dan sebaik-baik Penolong. Semoga rahmat dan salam Allah tetap tercurah kepada junjungan kami Nabi Muhammad, teriring keluarga dan sahabat beliau."
Jumat, 25 November 2011
Muharram adalah bulan di mana umat Islam mengawali tahun kalender Hijriah berdasarkan peredaran bulan. Muharram menjadi salah satu dari empat bulan suci yang tersebut dalam Al-Quran. "Jumlah bulan menurut Allah adalah dua belas bulan, tersebut dalam Kitab Allah
pada hari Dia menciptakan langit dan bumi.
Di antara kedua belas bulan itu ada empat bulan yang disucikan."
Keempat bulan itu adalah, Zulqaidah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab. Semua ahli tafsir Al-Quran sepakat dengan hal ini karena Rasululullah Saw dalam haji kesempatan haji terakhirnya
mendeklarasikan, "Satu tahun terdiri dari dua belas bulan, empat di antaranya adalah bulan suci. Tiga di antaranya berurutan yaitu Zulqaidah, Zulhijjah, Muharram dan ke empat adalah bulan Rajab."
Selain keempat bulan khusus itu, bukan berarti bulan-bulan lainnya tidak memiliki keutamaan, karena masih ada bulan Ramadhan yang diakui sebagai bulan paling suci dalam satu satu tahun. Keempat bulan tersebut secara khusus disebut bulan-bulan yang disucikan karena ada
alasan-alasan khusus pula, bahkan para penganut paganisme di Makkah mengakui keempat bulan tersebut disucikan.
Pada dasarnya setiap bulan adalah sama satu dengan yang lainnya dan tidak ada perbedaan dalam kesuciannya dibandingkan dengan bulan- bulan lain. Ketika Allah Swt memilih bulan khusus untuk menurunkan rahmatnya, maka Allah Swt lah yang memiliki kebesaran itu atas
kehendakNya.
Keutamaan Bulan Muharram
Nabi Muhammad Saw bersabda, "Ibadah puasa yang paling baik setelah puasa Ramadan adalah berpuasa di bulan Muharram."
Meski puasa di bulan Muharram bukan puasa wajib, tapi mereka yang berpuasa pada bulan Muharram akan mendapatkan pahala yang besar dari Allah Swt. Khususnya pada tanggal 10 Muharram yang dikenal dengan hari 'Asyura.
Ibnu Abbas mengatakan, ketika Nabi Muhammad Saw hijrah dari Makkah ke Madinah, beliau menjumpai orang-orang Yahudi di Madinah biasa berpuasa pada tanggal 10 Muharram. Menurut orang-orang Yahudi itu, tanggal 10 Muharram bertepatan dengan hari ketika Nabi Musa dan
pengikutnya diselamatkan dari kejaran bala tentara Firaun dengan melewati Laut Merah, sementara Firaun dan tentaranya tewas tenggelam.
Mendengar hal ini, Nabi Muhammad Saw mengatakan, "Kami lebih dekat hubungannya dengan Musa daripada kalian" dan langsung menyarankan agar umat Islam berpuasa pada hari 'Asyura. Bahkan dalam sejumlah tradisi umat Islam, pada awalnya berpuasa pada hari 'Asyura
diwajibkan. Kemudian, puasa bulan Ramadhan-lah yang diwajibkan sementara puasa pada hari 'Asyura disunahkan.
Dikisahkan bahwa Aisyah mengatakan, "Ketika Rasullullah tiba di Madinah, ia berpuasa pada hari 'Asyura dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa. Tapi ketika puasa bulan Ramadhan menjadi puasa wajib, kewajiban berpuasa itu dibatasi pada bulan Ramadhan saja dan
kewajiban puasa pada hari 'Asyura dihilangkan. Umat Islam boleh berpuasa pada hari itu jika dia mau atau boleh juga tidak berpuasa, jika ia mau." Namun, Rasulullah Saw biasa berpuasa pada hari 'Asyura bahkan setelah melaksanakan puasa wajib di bulan Ramadhan.
Abdullah Ibn Mas'ud mengatakan, "Nabi Muhammad lebih memilih berpuasa pada hari 'Asyura dibandingkan hari lainnya dan lebih memilih berpuasa Ramadhan dibandingkan puasa 'Asyura." (HR Bukhari dan Muslim).
Pendek kata, disebutkan dalam sejumlah hadist bahwa puasa di hari 'Asyura hukumnya sunnah.
Beberapa hadits menyarankan agar puasa hari 'Asyura diikuti oleh puasa satu hari sebelum atau sesudah puasa hari 'Asyura. Alasannya, seperti diungkapkan oleh Nabi Muhammad Saw, orang Yahudi hanya berpuasa pada hari 'Asyura saja dan Rasulullah ingin membedakan puasa umat Islam dengan puasa orang Yahudi. Oleh sebab itu ia menyarankan umat Islam berpuasa pada hari 'Asyura ditambah puasa satu hari sebelumnya atau satu hari sesudahnya (tanggal 9 dan 10 Muharram atau tanggal 10 dan 11 Muharram).
Selain berpuasa, umat Islam disarankan untuk banyak bersedekah dan menyediakan lebih banyak makanan untuk keluarganya pada 10 Muharram. Tradisi ini memang tidak disebutkan dalam hadist, namun ulama seperti Baihaqi dan Ibnu Hibban menyatakan bahwa hal itu boleh
dilakukan.
Legenda dan Mitos Hari 'Asyura
Meski demikian banyak legenda dari salah pengertian yang terjadi di kalangan umat Islam menyangkut hari 'Asyura, meskipun tidak ada sumber otentiknya dalam Islam.
Beberapa hal yang masih menjadi keyakinan di kalangan umat Islam adalah legenda bahwa pada hari'Asyura Nabi Adam diciptakan, pada hari 'Asyura Nabi Ibrahim dilahirkan, pada hari 'Asyura Allah Swt menerima tobat Nabi Ibrahim, pada hari 'Asyura Kiamat akan terjadi dan siapa yang mandi pada
hari 'Asyura diyakini tidak akan mudah terkena penyakit.
Semua legenda itu sama sekali tidak ada dasarnya dalam Islam. Begitu juga dengan keyakinan bahwa disunnahkan bagi mereka untuk menyiapkan makanan khusus untuk hari 'Asyura.
Sejumlah umat Islam mengaitkan kesucian hari 'Asyura dengan kematian cucu Nabi Muhmmad Saw, Husain saat berperang melawan tentara Suriah. Kematian Husain memang salah satu peristiwa tragis dalam sejarah Islam. Namun kesucian hari 'Asyura tidak bisa dikaitkan dengan
peristiwa ini dengan alasan yang sederhana bahwa kesucian hari 'Asyura sudah ditegakkan sejak zaman Nabi Muhammad Saw jauh sebelum kelahiran Sayidina Husain. Sebaliknya, adalah kemuliaan bagi Husain yang kematiannya dalam pertempuran itu bersamaan dengan
hari 'Asyura.
Anggapan-anggapan yang salah lainnya tentang bulan Muharram adalah kepercayaan bahwa bulan Muharram adalah bulan yang tidak membawa keberuntungan, karena Husain terbunuh pada bulan itu. Akibat adanya anggapan yang salah ini, banyak umat Islam yang tidak melaksanakan pernikahan pada bulan Muharram dan melakukan upacara khusus sebagai
tanda ikut berduka atas tewasnya Husain dalam peperangan di Karbala, apalagi disertai dengan ritual merobek-robek baju atau memukuli dada sendiri.
Nabi Muhammad sangat melarang umatnya melakukan upacara duka karena meninggalnya seseorang dengan cara seperti itu, karena tindakan itu adalah warisan orang-orang pada zaman jahiliyah.
Rasulullah bersabda, "Bukanlah termasuk umatku yang memukuli dadanya, merobek bajunya dan menangis seperti orang-orang pada zaman jahiliyah."
Bulan Pengampunan Dosa
Bulan Muharram adalah bulan pertama dalam sistem kalender Islam. Kata Muharram artinya 'dilarang'. Sebelum datangnya ajaran Islam, bulan Muharram sudah dikenal sebagai bulan suci dan pada bulan ini dilarang untuk melakukan hal-hal seperti peperangan dan pertumpahan
darah.
Seperti sudah disinggung di atas, bahwa bulan Muharram banyak memiliki keistimewaan. Khususnya pada tanggal 10 Muharram. Beberapa kemuliaan tanggal 10 Muharram antara lain Allah Swt akan mengampuni dosa-dosa setahun sebelumnya dan setahun ke depan. (Tarmizi)
Sabtu, 05 November 2011
عيد الأضحى
Idul Adha (di Republik Indonesia, Hari Raya Haji, bahasa Arab: عيد الأضحى) adalah sebuah hari raya Islam. Pada hari ini diperingati peristiwa kurban, yaitu ketika nabi Ibrahim (Abraham), yang bersedia untuk mengorbankan putranya Ismail untuk Allah, akan mengorbankan putranya Ismail, kemudian digantikan oleh-Nya dengan domba.
Pada hari raya ini, umat Islam berkumpul pada pagi hari dan melakukan salat Ied bersama-sama di tanah lapang, seperti ketika merayakan Idul Fitri. Setelah salat, dilakukan penyembelihan hewan kurban, untuk memperingati perintah Allah kepada Nabi Ibrahim yang menyembelih domba sebagai pengganti putranya.
Hari Raya Idul Adha jatuh pada tanggal 10 bulan Dzulhijjah, hari ini jatuh persis 70 hari setelah perayaan Idul Fitri. Hari ini juga beserta hari-hari Tasyrik diharamkan puasa bagi umat Islam.
Pusat perayaan Idul Adha adalah sebuah desa kecil di Arab Saudi yang bernama Mina, dekat Mekkah.
Di sini ada tiga tiang batu yang melambangkan Iblis dan harus dilempari batu oleh umat Muslim yang sedang naik Haji.
Hari Idul Adha adalah puncaknya ibadah Haji yang dilaksanakan umat Muslim.
Penetapan Idul Adha
Bahwa bila umat Islam meyakini, bahwa pilar dan inti dari ibadah Haji adalah wukuf di Arafah, sementara Hari Arafah itu sendiri adalah hari ketika jamaah haji di tanah suci sedang melakukan wukuf di Arafah, sebagaimana sabda Nabi saw.:
«اَلْحَجُّ عَرَفَةُ»
Ibadah haji adalah (wukuf) di Arafah. (HR at-Tirmidzi, Ibn. Majah, al-Baihaqi, ad-Daruquthni, Ahmad, dan al-Hakim.
Al-Hakim berkomentar, “Hadits ini sahih, sekalipun beliau berdua [Bukhari-Muslim] tidak mengeluarkannya”).
Dalam hadits yang dituturkan oleh Husain bin al-Harits al-Jadali berkata, bahwa amir Makkah pernah menyampaikan khutbah, kemudian berkata:
«عَهِدَ إِلَيْنَا رَسُولُ اللهِ e أَنْ نَنْسُكَ لِلرُّؤْيَةِ فَإِنْ لَمْ نَرَهُ وَشَهِدَ شَاهِدَا عَدْلٍ نَسَكْنَا بِشَهَادَتِهِمَا»
Rasulullah saw. telah berpesan kepada kami agar kami menunaikan ibadah haji berdasarkan ru’yat (hilal Dzulhijjah). Jika kami tidak bisa menyaksikannya, kemudian ada dua saksi adil (yang menyaksikannya), maka kami harus mengerjakan manasik berdasarkan kesaksian mereka. (HR Abu Dawud, al-Baihaqi dan ad-Daruquthni. Ad-Daruquthni berkomentar, “Hadits ini isnadnya bersambung, dan sahih.”).
Hadits ini menjelaskan: Pertama, bahwa pelaksanaan ibadah haji harus didasarkan kepada hasil ru’yat hilal 1 Dzulhijjah, sehingga kapan wukuf dan Idul Adhanya bisa ditetapkan. Kedua, pesan Nabi kepada amir Makkah, sebagai penguasa wilayah, tempat di mana perhelatan haji dilaksanakan, untuk melakukan ru’yat; jika tidak berhasil, maka ru’yat orang lain, yang menyatakan kesaksiannya kepada amir Makkah.
Jumat, 04 November 2011
Kamis, 03 November 2011
Tatacara dan Adab-adab Menyembelih Hewan Menurut Sunnah
Abu Numair Nawawi B. Subandi
http://fiqh-sunnah.blogspot.com

Contoh Gambarajah 1.0

Gambar Rajah 2.0
Dalam
hadis-hadis yang sahih, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam
apabila menyembelih haiwan sama ada untuk korban (udhiyah) atau hadyu
(ketika haji), beliau menyembelih dengan tangannya sendiri. Dari sini
menunjukkan sebahagian dari sunnah-sunnah penyembelihan haiwan adalah
berusaha untuk menyembelih dengan tangan sendiri.
Tetapi
sayangnya pada hari ini ramai dari kalangan umat Islam yang tidak mampu
untuk melaksanakan penyembelihan secara individu atau dengan tangannya
sendiri. Antaranya disebabkan tidak memiliki ilmu, takut, tidak biasa,
dan tidak yakin (was-was). Maka, tulisan ini penulis usahakan dari hasil
bacaan dan catatan peribadi penulis sebagai perkongsian buat para
pembaca semua yang memiliki semangat dan minat untuk memahami persoalan
ini dari kaca-mata yang syar’i dan sunnah.
Semoga
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikannya bermanfaat buat diri penulis
dan para pembaca di luar sana sama ada di dunia mahupun di akhirat.
Kepada Allah jualah penulis mengharapkan kebaikan, rahmat, dan petunjuk
yang berterusan.
[Pertama] Ihsan Terhadap Haiwan Sembelihan
Di antara cara dan sikap ihsan yang disunnahkan ketika melaksanakan penyembelihan haiwan adalah:
1. Tidak menajamkan pisau di hadapan haiwan yang akan disembelih.
2. Tidak menyembelih haiwan di hadapan haiwan-haiwan lain yang akan disembelih.
3. Tidak membawa haiwan ke tempat sembelihan dengan cara yang kasar.
4.
Memilih cara paling mudah dan yang paling kurang menimbulkan rasa
sakit. (an-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, 13/106. Al-Mubarakfuri, Tuhfah
al-Ahwadzi, 4/553)
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّ
اللَّهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ
فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ
وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ
“Sesungguhnya
Allah telah mewajibkan supaya sentiasa bersikap ihsan (baik) terhadap
segala sesuatu. Apabila kamu hendak membunuh, maka bunuhlah dengan cara
yang paling baik. Apabila kamu hendak menyembelih haiwan, maka
sembelihlah dengan cara yang paling baik iaitu dengan menajamkan alat
sembelihan dan hendaklah meletakkan haiwan dalam keadaan yang selesa.”
(Hadis Riwayat Muslim, 10/122, no. 3615)
Maksud,
“... hendaklah meletakkan haiwan dalam keadaan yang selesa.” adalah
dengan menajamkan pisau dan mempercepatkan pergerakan pisau ketika
menyembelihnya. (an-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, 13/106)
Pisau (alat menyembelih) hendaklah ditajamkan lebih awal sebagaimana kata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:
أتريد أن تُمِيتَها موتاتٍ هَلاَّ حَدَدْتَ شَفْرَتك قبل أن تُضْجِعَها
“Adakah
kamu mahu membunuhnya dua kali? Tajamkanlah pisau terlebih dahulu
sebelum kamu membaringkannya.” (Hadis Riwayat al-Hakim, 4/257, no. 7563.
Dinilai sahih oleh adz-Dzahabi)
Di antara hikmahnya adalah supaya haiwan tidak dibiarkan berada dalam keadaan tertunggu-tunggu, ketakutan, dan tidak selesa.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melarang membunuh haiwan tanpa sebab yang wajar. Beliau bersabda:
مَا
مِنْ إِنْسَانٍ قَتَلَ عُصْفُورًا فَمَا فَوْقَهَا بِغَيْرِ حَقِّهَا
إِلَّا سَأَلَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَنْهَا قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ
وَمَا حَقُّهَا قَالَ يَذْبَحُهَا فَيَأْكُلُهَا وَلَا يَقْطَعُ رَأْسَهَا
يَرْمِي بِهَا
“Sesiapa
dari kalangan manusia yang membunuh seekor burung atau yang selain
darinya tanpa haknya, maka Allah akan meminta dia bertanggungjawab kelak
di akhirat.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa haknya?”
Rasulullah menjawab, “Disembelih lalu dimakan, dan janganlah seseorang
memotong kepalanya (membunuhnya) lalu dibuang.” (Hadis Riwayat
an-Nasaa’i, 13/312, no. 4274. Dinilai dhaif oleh al-Albani)
Selain
itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihiwa Sallam juga melarang memukul muka
haiwan, melarang mencaci haiwan, berlaku kasar, menyakitinya, serta
melarang melaknat atau mengejek haiwan. Ini disebutkan dalam hadis-hadis
yang lain.
Dalil-dalil yang
dibentangkan ini menunjukkan bahawa Islam adalah agama yang sangat
menganjurkan sikap ihsan bukan sahaja kepada sesama manusia, tetapi juga
terhadap para haiwan. Bukan sahaja ketika haiwan tersebut hidup, tetapi
juga ketika hendak menyembelih atau setelah membunuhnya.
[Kedua] Haiwan Yang Boleh Disembelih
Haiwan
yang boleh disembelih adalah dari jenis haiwan darat yang mengalirkan
darahnya dan halal dimakan. Ini adalah seperti unta, lembu, kambing,
kijang, ayam, itik, dan angsa.
Imam an-Nawawi rahimahullah menyebutkan:
قال بعض العلماء والحكمة فى اشتراط الذبح وانهار الدم تميز حلال اللحم والشحم من حرامهما وتنبيه على أن تحريم الميتة لبقاء دمها
“Sebahagian
ulama menyatakan bahawa hikmah pada syarat sembelihan (adz-Dzabh) dan
mengalirkan darah (an-nahr) adalah bagi membezakan di antara kehalalan
daging dan lemak dari yang mengharamkannya. Perlu diperhatikan bahawa
bangkai diharamkan (antaranya) kerana ia tidak mengalirkan
(mengeluarkan) darah di dalam tubuhnya.” (an-Nawawi, Syarah Shahih
Muslim, 13/123)
Adapun
haiwan darat dari jenis yang mengalir darahnya yang tidak halal dimakan
berdasarkan dalil-dalil yang telah ditentukan, maka ia adalah haram
walaupun setelah disembelih, dan matinya tetap dihukumkan sebagai
bangkai.
Manakala
haiwan yang tidak memiliki darah yang mengalir atau tidak boleh
disembelih (kerana tidak memiliki leher), jika ia mati maka matinya
dianggap sebagai bangkai. Kecuali bangkai setiap jenis haiwan air dan
bangkai belalang, ia halal dimakan walaupun tanpa melalui proses
sembelihan.
Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:
أُحِلَّتْ
لَنَا مَيْتَتَانِ، وَدَمَانِ. فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ: فَالْحُوتُ
وَالْجَرَادُ، وَأَمَّا الدَّمَانِ: فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ
“Dihalalkan
bagi kita dua bangkai dan dua jenis darah. Dua bangkai tersebut adalah
bangkai ikan dan belalang, manakala dua darah tersebut adalah hati dan
limpa.” (Hadis Riwayat Ahmad, 10/16, no. 5723. Dinilai sahih oleh
al-Albani dan hasan oleh Syu’aib al-Arnauth)
Juga sebagaimana sabda beliau yang lain:
هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ
“Laut
itu suci airnya dan halal bangkainya.” (Hadis Riwayat Malik, Abu Daud,
at-Tirmidzi, an-Nasaa’i, dan Ibnu Majah. Hasan sahih sebagaimana kata
at-Tirmidzi)
[Ketiga] Menghadapkan Haiwan Sembelihan Ke Arah Kiblat
Disunnahkan agar haiwan dihadapkan ke arah kiblat ketika menyembelihnya.
Nafi’ mengatakan:
أن بن عمر كان يكره أن يأكل ذبيحة ذبحه لغير القبلة
“Bahawasanya
Ibnu ‘Umar tidak suka makan daging haiwan yang tidak menghadap kiblat
ketika disembelih.” (al-Mushannaf ‘Abdurrazzaq, 4/489, no. 8585)
Demikian juga dengan Ibnu Sirin, beliau mengatakan:
كان يستحب أن توجه الذبيحة إلى القبلة
“Dianjurkan supaya menghadapkan haiwan ketika disembelih ke arah kiblat.” (al-Mushannaf ‘Abdurrazzaq, 4/489, no. 8587)
Ini
adalah sebagaimana perbuatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam
ketika menyembelih unta hadyu di Mina. Beliau hadapkan unta-unta yang
hendak disembelih ke arah kiblat. Riwayat ini diriwayatkan oleh Imam
Malik dalam al-Muwaththa’, 3/554-555, no. 1405. Dinilai sahih oleh
‘Abdul Qadir al-Arnauth dalam Tahqiq Jami’ al-Ushul, 3/342)
[Keempat] Membaringkan Haiwan (yang berupa kambing atau sejenisnya)
Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah memerintahkan supaya dibawakan dua
ekor kibas kepadanya untuk dikorbankan sebagaimana hadis daripada
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.
“Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkata (kepada ‘Aisyah), “Wahai ‘Aisyah, bawakanlah pisau ke sini.”
Kemudian
beliau bersabda, “Asahlah pisau ini dengan batu (pengasah).” ‘Aisyah
pun melakukan apa yang di perintahkan beliau. Setelah diasah, beliau
mengambilnya dan mengambil kibas tersebut lalu membaringkannya dan
menyembelihnya...” (Hadis Riwayat Muslim, 10/149, no. 3637)
Kata Imam ash-Shan’ani rahimahullah:
فيه
دليل على أنه يستحب إضجاع الغنم ولا تذبح قائمة ولا باركة لأنه أرفق بها
وعليه أجمع المسلمون ويكون الإضجاع على جانبها الأيسر لأنه أيسر للذابح في
أخذ السكين باليمنى وإمساك رأسها باليسار
“Ini
adalah dalil yang menjelaskan anjuran merebahkan haiwan yang hendak
disembelih (dari jenis kambing), dan ia tidak disembelih dalam keadaan
berdiri atau duduk. Kerana keadaan tersebut lebih mudah baginya dan ini
adalah ijma’ (kesepakatan) al-muslimun. Ia dilakukan dengan merebahkan
haiwan di atas sisi kirinya di mana ia lebih memudahkan orang yang
menyembelih sambil memegang pisau di tangan kanan dan memegang kepala
haiwan dengan tangan kirinya.” (ash-Shan’ani, Subulus Sulam, 4/162 –
Maktabah at-Taufiqiyah)
Dalam hadis daripada Anas radhiyallahu ‘anhu, ia menjelaskan posisi perletakan kaki kanan ketika menyembelih. Kata Anas:
ضَحَّى
النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ
فَرَأَيْتُهُ وَاضِعًا قَدَمَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا يُسَمِّي وَيُكَبِّرُ
فَذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ
“Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkorban dengan dua ekor kibas yang
warna putihnya lebih banyak dari warna hitam. Aku melihat beliau
meletakkan kaki beliau di atas rusuk kibas tersebut sambil menyebut nama
Allah dan bertakbir, lalu beliau menyembelih kedua-duanya dengan tangan
beliau sendiri.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, 17/255, Bab: Menyembelih
Haiwan Korban Dengan Tangannya, no. 5132)
Manakala
bagi unta, ianya disembelih dalam keadaan berdiri di atas tiga kakinya
dan kakinya yang kiri bahagian hadapan diikat dengan tali. (Abu Malik
Kamal, Shahih Fiqhus Sunnah, 2/364 – Maktabah at-Taufiqiyah)
[Kelima] Menyembelih Dengan Alat yang Tajam Selain Kuku, Tulang, Gading, dan Gigi
Sebagaimana
telah disebutkan dalam hadis-hadis sebelumnya, disunnahkan supaya
menyembelih haiwan menggunakan pisau atau alat penyembelih yang tajam.
Kemudian Rasulullah mengecualikannya dengan gigi dan tulang.
Ketika
seorang sahabat membunuh seekor unta yang bertindak liar dengan tikaman
(lemparan) tombak, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
مَا
أَنْهَرَ الدَّمَ وَذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ فَكُلُوهُ لَيْسَ
السِّنَّ وَالظُّفُرَ وَسَأُحَدِّثُكُمْ عَنْ ذَلِكَ أَمَّا السِّنُّ
فَعَظْمٌ وَأَمَّا الظُّفُرُ فَمُدَى الْحَبَشَةِ
“Setiap
apa yang ditumpahkan darahnya dengan disebut nama Allah maka makanlah
kecuali yang ditumpahkan darahnya dengan gigi dan kuku, dan akan
kusampaikan tentang itu. Adapun gigi, ia termasuk tulang. Manakala kuku,
ia adalah pisaunya orang-orang Habasyah.” (Hadis Riwayat al-Bukhari,
8/391, no. 2308)
Kata Imam an-Nawawi rahimahullah (Wafat: 676H):
وفى هذا الحديث تصريح بجواز الذبح بكل محدد يقطع إلا الظفر والسن وسائر العظام
“Hadis
ini menjelaskan tentang dibolehkan menyembelih haiwan dengan apa jua
alat yang tajam selagi mana boleh untuk memotong selain kuku, gigi dan
segala jenis tulang.” (Syarah Shahih Muslim, 13/123)
[Keenam] Teknik Sembelihan (at-Tadzkiyah)
At-Tadzkiyah menurut bahasa adalah mashdar dari dzakaitu al-hayawan (aku menyembelih haiwan). Dan isim (bentuk kata benda)nya adalah dzakah, iaitu adz-Dzabh dan an-Nahr.
Menurut istilah, ia adalah faktor yang menyebabkan dihalalkan memakan haiwan darat.
Para ulama menjelaskan bahawa an-Nahr (menusuk pada bahagian leher) adalah teknik sembelihan khusus bagi unta, dan adz-Dzabh (sembelihan dengan cara memotong di leher) adalah bagi haiwan selain unta.
Mazhab
Abu Hanifah mengatakan, “Penyembelihan adalah suatu kaedah yang syar’i
untuk menjaga kesucian haiwan agar halal untuk dimakan sekiranya ia
halal dimakan. Atau bagi tujuan memanfaatkan kulit dan bulunya jika
haiwan tersebut tidak halal dimakan.” (Shahih Fiqhus Sunnah, 2/357 –
Maktabah at-Taufiqiyah)
Mazhab
al-Hanabilah (pengikut Ahmad B. Hanbal) mendefinisikannya sebagai,
“Dzabh (memotong) atau Nahr (menusuk) adalah kaedah penyembelihan untuk
haiwan darat yang berada dalam kawalan (yang mampu ditangkap) selain
belalang atau yang sejenisnya dengan memotong saluran halkum
(trakea/salur pernafasan) dan mari’ (esofagus/salur makanan), atau
dengan cara menusuk bagi haiwan yang kuat meronta atau terhalang dari
menyembelihnya (sebagaimana membunuh haiwan buruan – Pen.).” (Shahih
Fiqhus Sunnah, 2/357 – Maktabah at-Taufiqiyah)
Kaedah
membunuh haiwan buruan yang liar yang tidak dapat ditangkap adalah
dengan cara melemparkan (iaitu menusukkan) pada mana-mana bahagian
tubuhnya dengan senjata tajam atau dengan menggunakan khidmat haiwan
pemburu yang terlatih.
Adapun
berkenaan syarat sembelihan atau bahagian yang perlu diputuskan atau
dipotong, Imam an-Nawawi rahimahullah (Wafat: 676H) menyebutkan:
الشافعى
وأصحابه وموافقوهم لاتحصل الذكاة إلابقطع الحلقوم والمرئ بكمالهما ويستحب
قطع الودجين ولايشترط وهذا أصح الروايتين عن أحمد وقال بن المنذر أجمع
العلماء على أنه اذا قطع الحلقوم والمرئ والودجين وأسال الدم حصلت الذكاة
قال واختلفوا فى قطع بعض هذا
“Imam
asy-Syafi’i, para sahabatnya, dan orang-orang yang bersetuju dengannya
mengatakan, “Tidak sah suatu sembelihan melainkan setelah terpotong pada
halkum (salur pernafasan) dan mari’ (salur makanan/esofagus) secara
sempurna. Dan disunnahkan memotong dua urat darahnya yang lain (yang
terdapat di sekitar leher), tetapi ini tidaklah termasuk syarat. Dan ini
juga adalah pendapat yang kuat dari Imam Ahmad berdasarkan dua riwayat.
Ibnu
al-Mundzir berkata, “Para ulama telah sepakat (ijma’) bahawa apabila
telah terpotong halkum (salur pernafasan), salur makanannya (esofafus),
dan kedua urat darah pada leher haiwan sembelihan, serta mengalirkan
darahnya, maka ini sudah dianggap sebagai sembelihan yang benar dan
sah.” Al-Mundzir melanjutkan, “Dan mereka (para ulama) berselisih
apabila yang terpotong hanya sebahagian dari apa yang disebutkan ini.”
(an-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, 13/124)
Berkaitan haiwan liar atau haiwan yang yang asalnya jinak tetapi kemudian menjadi liar, Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan:
وأما
المتوحش كالصيد فجميع أجزائه يذبح مادام متوحشا فإذا رماه بسهم أو أرسل
عليه جارحة فأصاب شيئا منه ومات به حل بالاجماع وأما اذا توحش انسى بأن ند
بعير أو بقرة أو فرس أوشردت شاة أو غيرها فهو كالصيد فيحل بالرمى إلى غير
مذبحه وبإرسال الكلب وغيره من الجوارح عليه
“Adapun
bagi haiwan liar yang termasuk haiwan buruan, maka seluruh anggotanya
boleh dijadikan sebagai sasaran sembelihan selagi mana ia liar dan tidak
dapat ditangkap (untuk disembelih secara normal) sehingga apabila
dilempar dengan tusukan panah atau ditangkap oleh anjing pemburu yang
terlatih kemudian mengenai sebahagian dari anggota badannya dan mati,
maka hukumnya adalah halal dengan ijma’ (kesepakatan ulama).
Adapun
jika haiwan jinak yang bertukar liar (mengganas) seperti unta yang
terlepas (atau mengamuk - pen.), atau lembu, atau kuda, atau mungkin
kambing dan selainnya, maka ia dianggap sebagaimana haiwan buruan yang
mana ia boleh dilempar dengan panah (objek tajam) di selain tempat
sembelihannya yang asal dan boleh juga ditangkap menggunakan khidmat
anjing pemburu yang terlatih.” (an-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, 13/126)
Ini adalah sebagaimana dalil hadis daripada ‘Abayah B. Rifa’ah B. Rafi’ B. Khadij yang menjelaskan daripada datuknya:
كُنَّا
مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِذِي الْحُلَيْفَةِ
فَأَصَابَ النَّاسَ جُوعٌ فَأَصَابُوا إِبِلًا وَغَنَمًا قَالَ وَكَانَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أُخْرَيَاتِ الْقَوْمِ
فَعَجِلُوا وَذَبَحُوا وَنَصَبُوا الْقُدُورَ فَأَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْقُدُورِ فَأُكْفِئَتْ ثُمَّ قَسَمَ
فَعَدَلَ عَشَرَةً مِنْ الْغَنَمِ بِبَعِيرٍ فَنَدَّ مِنْهَا بَعِيرٌ
فَطَلَبُوهُ فَأَعْيَاهُمْ وَكَانَ فِي الْقَوْمِ خَيْلٌ يَسِيرَةٌ
فَأَهْوَى رَجُلٌ مِنْهُمْ بِسَهْمٍ فَحَبَسَهُ اللَّهُ ثُمَّ قَالَ إِنَّ
لِهَذِهِ الْبَهَائِمِ أَوَابِدَ كَأَوَابِدِ الْوَحْشِ فَمَا غَلَبَكُمْ
مِنْهَا فَاصْنَعُوا بِهِ هَكَذَا فَقَالَ جَدِّي إِنَّا نَرْجُو أَوْ
نَخَافُ الْعَدُوَّ غَدًا وَلَيْسَتْ مَعَنَا مُدًى أَفَنَذْبَحُ
بِالْقَصَبِ قَالَ مَا أَنْهَرَ الدَّمَ وَذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ
فَكُلُوهُ لَيْسَ السِّنَّ وَالظُّفُرَ وَسَأُحَدِّثُكُمْ عَنْ ذَلِكَ
أَمَّا السِّنُّ فَعَظْمٌ وَأَمَّا الظُّفُرُ فَمُدَى الْحَبَشَةِ
“Kami
bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam di Dzul Hulaifah ketika
sebahagian orang mengalami kelaparan lalu mereka mengambil (harta
rampasan perang berupa) unta dan kambing. Ketika itu Nabi Shallallahu
‘alaihi wa Sallam berada di belakang bersama rombongan yang lain.
Orang-orang yang kelaparan tersebut menyembelih lalu mengambil daging
sebanyak satu kuali.
Maka
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan agar kuali tersebut
ditumpahkan isinya. Kemudian Beliau membahagi sama-rata di mana bahagian
setiap sepuluh ekor kambing sama dengan satu ekor unta. Tetapi kemudian
ada seekor unta yang lari lalu mereka mencarinya sampai kepenatan.
Sementara itu di antara mereka ada yang memiliki seekor kuda yang lincah
lalu ia pun mencari unta yang terlepas tadi dan memburunya dengan panah
hingga akhirnya Allah mentakdirkannya dapat membunuh unta tersebut.
Beliau
Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya haiwan seperti
ini hukumnya sama dengan haiwan liar (haiwan buruan). Maka apa sahaja
yang terlepas dari kamu (dan gagal untuk ditangkap), lakukanlah seperti
ini.”
Datukku
berkata, “Kita berharap atau bimbang bertemu musuh pada esok hari
sedangkan kita tidak memiliki pisau, adakah kita boleh menyembelih
dengan kayu?”
Beliau
bersabda, “Setiap apa yang ditumpahkan darahnya dengan disebut nama
Allah maka makanlah kecuali yang ditumpahkan darahnya dengan gigi dan
kuku, dan akan kusampaikan tentang itu. Adapun gigi, ia termasuk tulang.
Manakala kuku, ia adalah pisaunya orang-orang Habasyah.” (Hadis Riwayat
al-Bukhari, 8/391, no. 2308)
Haiwan
buruan yang mati hendaklah ia mati dengan sebab terkena tusukan pada
bahagian alat yang tajam yang mengalirkan darah sama ada dengan mata
lembing, panah, atau alat-alat yang seumpamanya yang tajam. Dan bukan
pada bahagian yang tumpul seperti misalnya pada bahagian hulu lembing
atau juga tidak boleh dibaling dengan bahan tumpul seperti batu yang
seumpamanya.
Melainkan
sekiranya ia sempat disembelih sebelum mati, maka halal. Jika mati
kerana dilempar dengan objek tumpul, maka haram dimakan.
Ini sebagaimana hadis ‘Adi B. Hatim radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tentang berburu dengan lembing (tombak), maka beliau bersabda:
Ini sebagaimana hadis ‘Adi B. Hatim radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tentang berburu dengan lembing (tombak), maka beliau bersabda:
إِذَا أَصَبْتَ بِحَدِّهِ فَكُلْ فَإِذَا أَصَابَ بِعَرْضِهِ فَقَتَلَ فَإِنَّهُ وَقِيذٌ
[Ketujuh] Dibenci (makruh) Menyembelih Haiwan Hingga Terputus Lehernya
Ini
adalah berdasarkan penjelasan dari kalangan sahabat dan ulama dari
kalangan Tabi’in. Mereka membenci perbuatan tersebut dan sebahagiannya
enggan untuk memakannya.
Nafi’ mengatakan:
أن بن عمر كان لا يأكل الشاة إذا نخعت
“Sesungguhnya
Ibnu ‘Umar enggan memakan daging kambing yang disembelih sehingga
lehernya terputus.” (Mushannaf ‘Abdurrazzaq, 4/490, no. 8591)
Atha’ (ulama Tabi’in) berkata:
إن ذبح ذابح فأبان الرأس فكل ما لم يتعمد ذلك
“Jika
ada orang yang menyembelih haiwan sehingga kepala terpisah dari
tubuhnya maka kamu makanlah asalkan orang tersebut melakukannya tanpa
sengaja.” (Mushannaf ‘Abdurrazzaq, 4/491, no. 8599)
Thawus berkata:
لو أن رجلا ذبح جديا فقطع رأسه لم يكن بأكله بأس
“Jika
ada orang yang menyembelih haiwan sehingga lehernya putus maka daging
haiwan tersebut tetap boleh dimakan.” (Mushannaf ‘Abdurrazzaq, 4/491,
no. 8601)
Ma’mar mengatakan:
سئل الزهري عن رجل ذبح بسيفه فقطع الرأس قال بئس ما فعل فقال الرجل فيأكلها قال نعم
“Ketika
Imam az-Zuhri (ulama dari kalangan Tabi’in) ditanya tentang seseorang
yang menyembelih dengan menggunakan pedang sehingga leher haiwan yang
disembelih putus. Jawab beliau, “Buruk sungguh perbuatan tersebut.”
Beliau ditanya lagi, “Adakah dagingnya boleh dimakan?” az-Zuhri
menjawab, “Boleh.” (Mushannaf ‘Abdurrazzaq, 4/492, no. 8600)
[Kelapan] Menyebut Nama Allah Ketika Menyembelih
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلا
تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ
لَفِسْقٌ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ
لِيُجَادِلُوكُمْ
“Dan
janganlah kamu memakan haiwan-haiwan yang tidak disebut nama Allah
ketika menyembelihnya, sesungguhnya perbuatan tersebut adalah suatu
kefasikan.” (al-An’am, 6: 121)
Kata
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, “Setiap apa yang ditumpahkan
darahnya dengan disebut nama Allah maka makanlah...” (Hadis Riwayat
al-Bukhari, 8/391, no. 2308)
Al-Hafiz Ibnu Katsir rahimahullah (Wafat: 774H) menyatakan:
استدل بهذه الآية الكريمة من ذهب إلى أنه لا تحل الذبيحة التي لم يذكر اسم الله عليها، ولو كان الذابح مسلما
“Ayat
ini adalah dalil bahawa sembelihan tidak halal sekiranya tidak disebut
nama Allah ketika menyembelihnya walaupun yang menyembelihnya adalah
seorang muslim.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/324)
Kata Ibnu ‘Abbas, “(Tetapi sekiranya dia terlupa), maka tidak mengapa.” (Fathul Bari, 9/624)
Manakala
ketika menyembelih haiwan korban, disunnahkan membaca basmalah dan
takbir sambil berdoa memohon agar korbannya diterima Allah. Bagi haiwan
buruan pula, nama Allah hendaklah disebut ketika melepaskan haiwan
pemburu atau ketika melemparkan senjata tajam ke arah sasaran.
Ini adalah sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:
Ini adalah sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:
وَمَا
صِدْتَ بِقَوْسِكَ فَذَكَرْتَ اسْمَ اللَّهِ فَكُلْ وَمَا صِدْتَ
بِكَلْبِكَ الْمُعَلَّمِ فَذَكَرْتَ اسْمَ اللَّهِ فَكُلْ وَمَا صِدْتَ
بِكَلْبِكَ غَيْرِ مُعَلَّمٍ فَأَدْرَكْتَ ذَكَاتَهُ فَكُلْ
“Buruan yang kamu perolehi dengan tombakmu setelah menyebut nama Allah maka makanlah, buruan yang diperolehi oleh anjingmu yang terlatih setelah menyebut nama Allah di ketika melepaskannya maka makanlah, dan buruan yang diperolehi oleh anjingmu yang tidak terlatih jika kamu sempat menyembelihnya maka makanlah.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, 17/135, no. 5056)
[Kesembilan] Memastikan Haiwan Benar-benar Mati
Haiwan
yang disembelih hendaklah dipastikan telah benar-benar mati terlebih
dahulu sebelum dilakukan proses seterusnya. Dan kematiannya hendaklah
dilakukan dengan semata-mata sembelihan tanpa sebarang tekanan atau
paksaan.
Ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:
وَالْبُدْنَ
جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ
فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا
فَكُلُوا مِنْهَا
“Dan
telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi'ar
Allah, kamu mendapat kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah nama
Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah
terikat). Kemudian apabila telah rebah (mati), maka makanlah darinya...”
(Surah al-Hajj, 22: 36)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
مَا قُطِعَ مِنَ الْبَهِيمَةِ وَهِيَ حَيَّةٌ، فَهُوَ مَيْتَةٌ
“Apa-apa
bahagian yang dipotong dari haiwan yang masih hidup, maka potongan
tersebut adalah bangkai.” (Hadis Riwayat Ahmad, 36/233, no. 21903.
36/235, no. 21904. Dinilai hasan oleh at-Tirmidzi dan Syu’aib
al-Arnauth)
Ibnu
Katsir menyatakan dalam Tafsirnya, “Janganlah kamu mengambil daging
unta setelah disembelih melainkan setelah benar-benar mati dan tidak
bergerak lagi. Disebutkan dalam hadis marfu’:
ولا تُعجِلُوا النفوسَ أن تَزْهَق
“Jangan dipaksa-paksa ruh haiwan sembelihan agar segera keluar.”.” (Tafsir Ibnu Katsir, 5/428)
[Kesepuluh] Sembelihan Ahli Kitab
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ
“Pada
hari ini dihalalkan bagi kamu yang baik-baik. Makanan orang-orang yang
diberi al-Kitab itu halal bagi kamu, dan makanan kamu juga halal bagi
mereka.” (Surah al-Ma’idah, 5: 5)
Makanan
ahli kitab yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah sembelihan ahli
kitab. Ini adalah suatu yang telah disepakati oleh para ulama bahawa
sembelihan mereka halal bagi umat Islam. (Tafsir Ibnu Katsir, 3/40)
Secara
umumnya, apa jua makanan berupa hasil sembelihan ahli kitab, ia adalah
halal bagi umat Islam melainkan padanya jelas tanpa terselindung adalah
makanan yang diharamkan bagi umat Islam untuk memakannya, atau
mengandungi unsur-unsur terlarang seperti bercampur dengan khamr (arak),
babi, atau padanya disebut nama selain nama Allah ketika menyembelih.
Adapun apa yang tidak diketahui di sebalik itu, maka cukuplah maklumat
secara umum dan tidak dibebankan ke atas kita untuk menyemak atau
mempersoalkannya secara mendalam terlebih dahulu sebelum memakannya.
Demikian
juga dengan hasil sembelihan yang datang dari umat Islam, maka kita
menerimanya tanpa terlebih dahulu mempertikai, mempersoal, atau
menyemaknya secara terperinci. Melainkan padanya secara jelas memiliki
unsur-unsur yang haram lagi meragukan.
Ahli
Kitab di sini merujuk kepada Yahudi dan Nashara secara umum tanpa
membezakan Ahli Kitab di zaman Nabi atau di zaman sekarang, ataupun yang
akan datang. Sama ada yang kuat berpegang kepada ajarannya yang asal
atau yang telah diubah-suai. Kerana Ahli Kitab di zaman Nabi sendiri
memang turut dikenali sebagai termasuk orang-orang yang mengubah-suai
Kitab yang diturunkan kepada mereka.
Apabila
diberi daging hasil sembelihan, dari mana-mana kalangan umat Islam atau
Ahli Kitab, maka makanlah tanpa ragu-ragu dan mulakannya dengan membaca
basmallah.
Ini
adalah sebagaimana keterangan yang dapat diambil dari hadis ‘Aisyah
radiyallahu ‘anha ketika bertanya perkara berkaitan. ‘Aisyah bertanya:
يَا
رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ هَا هُنَا أَقْوَامًا حَدِيثٌ عَهْدُهُمْ بِشِرْكٍ
يَأْتُونَا بِلُحْمَانٍ لَا نَدْرِي يَذْكُرُونَ اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا
أَمْ لَا قَالَ اذْكُرُوا أَنْتُمْ اسْمَ اللَّهِ وَكُلُوا
“Wahai
Rasulullah, di sini ada beberapa kaum yang baru saja meninggalkan
kesyirikan (baru masuk Islam), mereka biasa membawakan daging untuk kami
yang kami tidak tahu sama ada mereka menyembelihnya dengan menyebut
nama Allah atau pun tidak?” Nabi menjawab, “Kamu sebutlah nama Allah,
dan makanlah.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, 22/400, no. 6849)
Dalam
sebuah riwayat menyebutkan ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
Sallam bersama-sama para sahabatnya dihadiahkan seekor kambing bakar
oleh seorang wanita Yahudi, beliau pun memakannya tanpa was-was atau
memperincikannya terlebih dahulu kedudukan daging tersebut walaupun pada
daging tersebut rupa-rupanya mengandungi racun. (Rujuk Tafsir Ibnu
Katsir, 3/40)
Riwayat
atau kisah ini menjadi dalil bahawa tidak disunnahkan untuk terlalu
memperincikan pemberian ahli kitab yang berupa hasil sembelihannya
sebelum memakannya.
[Kesebelas] Haram Menyembelih Untuk Selain Allah
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
حُرِّمَتْ
عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ
لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ
وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلا مَا
ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ
“Diharamkan
bagi kamu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging haiwan) yang
disembelih atas nama selain Allah, yang mati tercekik, yang mati
dipukul, yang mati terjatuh, yang mati ditanduk, dan yang mati diterkam
binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya. Dan (diharamkan
bagi kamu) haiwan yang disembelih untuk berhala.” (Surah al-Ma’idah, 5:
3)
Haiwan
yang disembelih yang padanya disebut dengan nama selain nama Allah,
atau bagi tujuan pemujaan dan penyembahan, maka hukumnya adalah haram
dimakan secara ijma’.
[Kedua Belas] Penyembelihan Janin Dalam Perut Induk
Apabila
seekor haiwan yang disembelih dan dalam kandungannya terdapat janin
yang mati, maka janin tersebut halal dimakan berdasarkan pendapat ulama
yang paling sahih. Kerana ia secara hakikinya telah tersembelih
bersama-sama dengan penyembelihan ibunya. Ini adalah pendapat jumhur
kecuali Abu Hanifah.
Adapun
bagi janin yang keluar dalam keadaan hidup dengan hayat mustaqirah,
maka tidak halal dimakan melainkan dengan disembelih terlebih dahulu.
(Abu Malik Kamal, Shahih Fiqhus Sunnah, 2/365-366 – Maktabah
at-Taufiqiyah)
Pendapat ini didukung oleh hadis Abu Sa’id, beliau berkata:
سَأَلْتُ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْجَنِينِ
فَقَالَ كُلُوهُ إِنْ شِئْتُمْ وَقَالَ مُسَدَّدٌ قُلْنَا يَا رَسُولَ
اللَّهِ نَنْحَرُ النَّاقَةَ وَنَذْبَحُ الْبَقَرَةَ وَالشَّاةَ فَنَجِدُ
فِي بَطْنِهَا الْجَنِينَ أَنُلْقِيهِ أَمْ نَأْكُلُهُ قَالَ كُلُوهُ إِنْ
شِئْتُمْ فَإِنَّ ذَكَاتَهُ ذَكَاةُ أُمِّهِ
“Aku
bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tentang janin.
Maka beliau berkata, “Makanlah jika kamu suka.” Musaddad berkata, kami
katakan, “Wahai Rasulullah, kami menyembelih unta, lembu, dan kambing,
kemudian kami dapati janin di dalam perutnya. Adakah kami perlu
membuangnya atau kami boleh memakannya?” Beliau berkata, “Makanlah jika
kamu mahu, kerana penyembelihannya adalah dengan menyembelih ibunya.”
(Hadis Riwayat Abu Daud, 8/3, no. 2444. Dinilai sahih oleh al-Albani)
[Ketiga Belas] Ringkasan Syarat-syarat Umum Penyembelihan
1. Haiwan yang disembelih hendaklah masih hidup ketika sembelihan dilaksanakan.
2. Matinya haiwan adalah dengan secara normal (natural) hasil sembelihan.
3. Haiwan tersebut bukan termasuk haiwan buruan di tanah haram.
4.
Orang yang menyembelihnya hendaklah berakal (tidak gila atau mabuk)
sama ada lelaki ataupun wanita, sama ada baligh atau pun belum, iaitu
yang telah tamyiz (tahu membezakan di antara yang baik dengan yang
buruk).
5. Menyebut nama Allah ketika menyembelih. Dan dimaafkan sekiranya terlupa.
6. Penyembelih hendaklah dari kalangan Muslim atau Ahli Kitab.
7.
Bukan dalam keadaan ihram. Mereka yang menyembelih dalam keadaan sedang
berihram, maka hasilnya adalah bangkai. Dan syarat ini adalah bagi
sembelihan haiwan buruan. Adapun bagi haiwan yang jinak, tidak mengapa
disembelih oleh orang-orang yang berihram.
8. Bukan disembelih untuk tujuan pemujaan, penyembahan, dan yang padanya disebut selain dari nama Allah.
Puasa Tarwiyah dan Arafah
PUASA ARAFAH adalah puasa sunnah yang dilaksanakan pada hari Arafah yakni tanggal 9 Dzulhijah. Puasa ini sangat dianjurkan bagi orang-orang yang tidak menjalankan ibadah haji. Adapun teknis pelaksanaannya mirip dengan puasa-puasa lainnya.
Keutamaan puasa Arafah ini seperti diriwayatkan dari Abu Qatadah Rahimahullah. Rasulullah SAW bersabda:
صوم يوم عرفة يكفرسنتين ماضية ومستقبلة وصوم يوم عاشوراء يكفر سنة ماضية
Puasa hari Arafah dapat menghapuskan dosa dua tahun yang telah lepas dan akan datang, dan puasa Assyura (tanggal 10 Muharram) menghapuskan dosa setahun yang lepas. (HR. Muslim)
Sementara puasa Tarwiyah dilaksanakan pada hari Tarwiyah yakni pada tanggal 8 Dzulhijjah. Ini didasarkan pada satu redaksi hadits yang artinya bahwa Puasa pada hari Tarwiyah menghapuskan dosa satu tahun, dan puasa pada hari Arafah menghapuskan (dosa) dua tahun.
Dikatakan hadits ini dloif (kurang kuat riwayatnya) namun para ulama memperbolehkan mengamalkan hadits yang dloif sekalipun sebatas hadits itu diamalkan dalam kerangka fadla’ilul a’mal (untuk memperoleh keutamaan), dan hadits yang dimaksud tidak berkaitan dengan masalah aqidah dan hukum.
Lagi pula hari-hari pada sepersepuluh bulan Dzulhijjah adalah hari-hari yang istimewa. Abnu Abbas r.a meriwayatkan Rasulullah s.a.w bersabda:
ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام يعني أيام العشر قالوا: يا رسول الله! ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك شيء
Tidak ada perbuatan yang lebih disukai oleh Allah SWT, dari pada perbuatan baik yang dilakukan pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya : Ya Rasulullah! walaupun jihad di jalan Allah? Sabda Rasulullah: Walau jihad pada jalan Allah kecuali seorang lelaki yang keluar dengan dirinya dan harta bendanya, kemudian tidak kembali selama-lamanya (menjadi syahid). (HR Bukhari)
Puasa Arafah dan tarwiyah sangat dianjurkan untuk turut merasakan nikmat yang sedang dirasakan oleh para jemaah haji sedang menjalankan ibadah di tanah suci.
Sebagai catatan, jika terjadi perbedaan dalam penentuan awal bulan Dzulhijjah antara pemerintah Arab Saudi dan Indonesia. Ini didasarkan pada perbedaan posisi geografis semata.
Tidak disangsikan lagi bahwa puasa adalah jenis amalan yang paling utama, dan yang dipilih Allah untuk diri-Nya.
Disebutkandalam hadist Qudsi: Puasa ini adalah untuk-Ku, dan Aku-lah yang akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya semata-mata karena Aku.
Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah SAW bersabda: Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun. (HR Bukhari Muslim).
Langganan:
Postingan (Atom)






